Selasa, 02 Juli 2013

Pemeriksaan Kuda

“ Kuda Poni Kolik “
Thursday, June 20th  2013
Learning Objectives.
1.      Bagaimana pemeriksaan kuda secara legeartis (khusus sistem pencernaan) ?
2.      Bagaimana etiologi, gejala klinis dan penanganan kolik ?

Pembahasan.
1.      Pemeriksaan kuda secara legeartis.
A.    Registrasi.
Registrasi yaitu pencatatan data pemilik dan data dari pasien. Registrasi untuk klien meliputi pencatatan nama, alamat, dan nomor telepon klien. Registrasi untuk pasien meliputi breed (ras), sex (jenis kelamin), age (umur), dan specific pattern (tanda yang menciri) (B-S-A-S). Registrasi ditulis di sebuah kertas yang disebut ambulatoir, dimana masnig-masing spesies hewan berbeda-beda warnanya, pada kuda ambulatoir berwarna pink.
Materi lain untuk Registrasi antara lain keterangan status vaksinasi dan keadaan kesehatan, keterangan tentang penyakit yang sedang diderita serta penanganan yang sudah dilakukan, alasan konsultasi, sejarah penyakit, hasil pemeriksaan, hasil pemeriksaan tambahan (laboratorium, Rongent, Histopat dll). Diagnosis, Prognosis, dan terapi/pengobatannya, tindakan operasi dan rujukan.
B.     Anamnesa
Anamnesa merupakan wawancara terhadap klien untuk mendapatkan kunci mengenai keadaan pasien. Dengan anamnesa drh dapat mengetahui informasi tentang gambaran keadaan hewan mulai sakit sampai sekarang, Kejadian – kejadian pada waktu lampau yang ada hubunganya dengan penyakit yang sekarang diderita. Keadaan lingkungan, hewan yang serumah/ sekandang, tetangg dsb
Menurut Boddie (1956), sejarah dari suatu kasus dapat dibagi menjadi pre historyimmediate history, dan post history.
a)      Prehistory. Merupakan ceerita mengenai kejadian-kejadian sebelum terjadinya penyakit yang dikomplainkan klien..
b)      Immediate history. Merupakan sejarah sejak hewannya pertama kali menunjukkan gejala penyakit yang dikomplainkan oleh klien hingga saat pasien dibawa dan dirawat oleh dokter hewan..
c)       Post History. Merupakan sejarah dimana hewan tersebut menunjukann gejala atau perubahan-perubahan setelah dirujuk ke dokter hewan lain atau dengan pemberian obat terlebih dahulu sebelum dirujuk ke dokter hewan
C.     Handling dan Restrain.
Handling dan restrain kuda dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain:
1.      Halter dan Tali Muka
Satu dari cara dasar menguasai kuda adalah menempatkan halter dan tali muka pada kuda. Ini juga merupakan tahap pertama dalam memperoleh control kepala kuda, dimana ini adalah kunci untuk mengontrol kuda. Biasanya, halter diletakkan pertama, lalu tali muka disematkan di halter. Halter mempunyai loop kecil yang ditemukan di sekitar hidung dan loop besar yang ditempatkan di atas dan dibelakang telinga. Kaitan dan kancing digunakan untuk membuka dan menutup loop. (Hanie, 2006). Tali muka berasal dari beberapa material seperti nylon, kulit rami atau cotton, dan mempunyai 2 model dasar, dengan rantai atau tanpa rantai. Tanpa rantai, tali diletakkan hanya sebagai kendali (Hanie, 2006).
2.      Menutup Mata
Ini merupakan metode yang dapat diterapkan pada satu atau kedua mata. Dilakukan agar kuda tidak dapat melihat area bekerja, sehingga tidak memberikan respon. (Hanie, 2006).
3.      Mengangkat Kaki
Mengangkat kaki merupakan cara restrain yang pada dasarnya bermaksud untuk mengurangi pergerakan atau mencegah adanya tendangan. Cara seperti ini biasanya dilakukan saat melakukan pemeriksaan eksplorasi rektal atau melakukan pemeriksaan lain didaerah belakang, seperti menghitung pulsus pada arteri coccygea, atau menghitung temperatur melalui anus,juga ketika memasang tapal kuda, mengambil radiografi, atau menggunting rambut (Hanie, 2006).

Sebelum mengangkat salah satu kaki, kuda harus berdiri “kotak”, yang berarti semua keempat kaki harus langsung menopang kuda dengan semua berat badan terdistribusi dengan rata (Hanie, 2006).
4.      Restrain ekor
Restrain ekor efektif untuk anak kuda dan kuda poni yang kecil. Ekor digenggam dekat pangkal dan ekor dinaikkan lurus di atas punggung. Pada saat yang sama, digunakan lengan lain untuk melingkari pundak atau pangkal leher (Hanie, 2006).
5.      Penggunaan Praam/twitch
Praam adalah alat sederhana yang digunakan untuk mengendalikan kuda yang terbuat dari tongkat kuat dan tebal, yang diujungnya terdapat lubang dengan tali sepanjang 30 cm. Praam digunakan untuk mengalihkan perhatian kuda dengan cara memfokuskan rasa sakit kuda pada bagian bibir atas sehingga mempermudah pemeriksa dalam memeriksa kuda maupun ketika akan melakukan pengambilan sampel. Penggunaan pram dilakukan dengan cara melilitkan tali praam pada kulit bibir atas sedemikian rupa dan menjaga membran mukosa bibir terletak didalam. Penggunaan praam hendaknya tidak lebih dari 2 jam karena dapat menimbulkan nekrosis. (Sonsthagen, 1991)

6.      Hoppless
            Merupakan alat yang digunakan untuk membelenggu kaki kuda, sehingga gerak kaki menjadi terbatas. Selain untuk restrain, hopples dapat juga digunakan untuk casting. Hopples berbentuk seperti pembalut yang terbuat dari anyaman tali yang ujungnya dipasang ring. Macam-macam hopples: web hopple, english pastern hopplen two way hopple, king hopple, english hopple, dan breeding hopple.

D.    Pemeriksaan Umum
a.      Inspeksi
            Inspeksi merupakan cara pemeriksaan, yang meliputi melihat, membau dan mendengarkan tanpa alat bantu. Inspeksi digunakan untuk meneliti adanya hal lain yang abnormal. Perhatikan ekspresi muka/temperamen, kondisi tubuh, pernapasan (frekuensi, cara pengambilan nafas, ritme dan suara–suara abnormal tanpa melakukan pemeriksaan secara auskultasi, keadaan abdomen, posisi (berdiri/berbaring), sikap, langkah, permukaan tubuh, pengeluaran dan bau abnormal dari lubang-lubang pelepasan (hidung, mulut, anus, telinga, mata), adanya suara abnormal seperti batuk, bersin, ngorok, dll.
b.      Pulsus
            Prinsip pemeriksaan pulsus adalah mengambil pulsus primer yang dapat diraba, dapat menggunakan alat (stetoskop) maupun manual. Pada kuda, pemeriksaan pulsus dilakukan pada arteri maxillaris/maxillaris eksterna pada incisura vasorum. Hasil yang dicermati dari pemeriksaan pulsus antara lain adalah frekuensi per menit (pada kuda, normalnya 36-48/menit), ritme atau irama (berhubungan dengan amplitudo berapa jarak antara denyutan yang ke 1, 2, 3 dst. Apabila dalam keadaan normal, maka amplitudonya sama), serta kualitas (dilakukan pada waktu hewan tenang dan jangna dilakukan di tempat panas) ( McCurin, 2002).
c.       Nafas
             Pemeriksaan nafas biasanya dilakukan secara manual pada thoracoabdominal (melihat kembang kempis gerakan thorax dan abdomen) dan hidung (dengan meletakkan tangan di depan hidung). Hasil yang dicermati adalah frekuensi, biasanya semakin kecil hewan, frekuensi nafasnya semakin tinggi, setiap inspirasi dan ekspirasi dihitung 1 kali permenit (untuk hewan besar→frek nafas : frek pulsus = 1 :3), ritme dan kualitas. Pada kuda, normalnya adalah 14-48 x /menit.
d.      Suhu tubuh
            Sebelumnya olesi ujung thermometer dengan bahan pelican (missal vaselin). Masukkan ujung thermometer ke lubang anus, tunggu sampai angkanya terhenti dan hitung skalanya. Suhu normal pada kuda adalah 37oC – 39oC.
e.       Selaput lendir
            Pemeriksaan konjuctiva dilakukan pada 2 mata sekaligus, karena ada hubungannya dengan penyakit gangguan lokal atau sistemik. Gangguan lokal apabila mata yang sakit hanya unilateral, sedangkan gangguan sistemik apabila kedua mata yang sakit. Pertama- tama geser ke atas kelopak mata atas dengan ibu jari, gantikan ibu jari dengan telunjuk dan sedikit ditekan, maka akan tampak conjuctiva palpebrum. Tekan kelopak mata bawah dengan ibu jari, maka conjuctiva palpebrum bawah akan tampak. Perhatikan warna dan kelembapannya. Warna konjuctiva kuda, normalnya adalah pink.
Pada pemeriksaan selaput lendir yang lain dapat dilakukan dengan membuka selaput hidung, mulut, dan vulva dan memperhatikan warna serta kelembapannya. Dapat pula dilakukan CRT (Capillary Refill Time atau waktu terisinya kembali kapiler), dengan cara menekan gusi dan melepaskannya kembali. Kemudian hitung warna gusi dari putih menjadi merah. Pada semua hewan, termasuk kuda, normalnya adalah kurang dari 2 detik ( McCurin, 2002).
E.     Pemeriksaan Khusus
a.      Sistem pencernaan
Pemeriksaan alat pencernaan dimulai dengan memperhatikan nafsu makan dan minum, dengan cara memberikan pakan atau minuman. Hal yang perlu diperhatikan adalah mulut, abdomen, anus dan kulit sekitarnya, kaki belakang, cara defekasi dan volume serta bentuk fesesnya (Boddie, 1962).
·         Pemeriksaan Mulut, Pharynx, dan Esofagus
Perlu diperhatikan bau mulut dan selaput lendir mulut, pharynx, lidah, gusi dan gigi, kemungkinan adanya lesi, benda asing, perubahan warna, dan gangguan prehensi. Pada kuda betina membuka mulut dapat dilakukan dengan memasukkan tangan ke spatium intraalveolar, atau dapat pula dengan alat pembuka mulut (mouth gag).
Pharynx dipalpasi dari luar dan bila tersedia, lakukan inspeksi pharynx menggunakan rhinopharyngoscope. Raba pula lgl.mandibularis(submaxillaris) dan lgl. parapharyngealis (McCurin,2002). Esophagus kuda lebih tipis dan panjang dari sapi. Perhatikan leher sebelah kiri dan palpasi pangkal oesophagus lewat mulut. Bila ada sumbatan, ambil sonde kerogkongan yang terbuat dari pipa karet atau plastik yang supel, masukkan lewat hidung. Ukur dan beri tanda batas panjang dari mulut sampai lambung. Olesi zonde dengan pelicin, dorong pelan, dan biarkan zonde ditelan. Dalam keadaan normal, zonde dapat menembus batas tadi. Tapi, perlu diingat bahwa pada kuda ada bagian yang menyempit yang disebut pars cardiaca esophagi ( McCurin, 2002).
·         Pemeriksaan Abdomen
            Perhatikan tingkah laku kuda yang memberi petunjuk adanya kolik dan kemungkinan adanay muntah. Lakukan eksplorasi rektal, perhatikan kemungkinan adanya nyeri (pada tymphani usus) dan obstructant, dan lipatan penggantung usus (pada volvulus dan invagination) (McCurin, 2002).


·         Pemeriksaan usus, rektum, dan anus
Pemeriksaan dilakukan dengan auskultasi abdomen sebelah kanan. Dengarkan suara peristaltik usus dan gabungkan dengan pemeriksaan tinja, suhu, dan pemeriksaan umum lainnya. Untuk rektum, lakukan palpasi per rektal, sedangkan anus diinspeksi atau palpasi dari luar (McCurin, 2002).

2.      Etiologi, Gejala Klinis dan Penanganan Kolik
Kolik adalah rasa sakit di daerah perut, baik yang berasal dari alat pencernaan maupun bukan, yang di tandai kegelisahan, kesakitan, dan secara langsung dengan gangguan peredaran darah dan segala manifestasinya (Subronto., 2003).
Kuda mudah menderita kolik karena kekhususan alat pencernaan kuda, seperti: 
·         Lambung kuda relative kecil
·         Pylorus kuda letaknya “terjepit” di antara kolon dorsal dan ventral
·         Kolon dorsal dan ventral tergantung longgar pada mesenterium yang panjang hingga mudah mengalami pemutaran atau perubahan letak anatomis
·         Kuda memiliki saluran pencernaan yang panjang, sedang ukuran rongga perut relative sempit
·         Kerongkongan yang panjang terletak miring dan “terjepit”, tidak memudahkan proses muntah
·         Kuda termasuk spesies mamalia yang tidak tahan terhadap sensasi sakit, hingga memudahkan terjadinya kolik (Subronto., 2003).

Klasifikasi kolik 
Berdasarkan asal penyebab rasa sakit kolik;
                 Terdiri dari kolik sejati, simtomatik, dan kolik palsu. Pada kolik sejati asal penyebab rasa sakit yang terdapat di dalam saluran pencernaan, misalnya usus, lambung, hati, dan sebagainya. Pada kolik palsu, penyebabnya terdapat dalam alat-alat di luar sistem pencernaan makanan, misalnya ginjal, rahim, dan saluran kemih. Kolik dikatakan sebagai kolik simtomatik bila kolik tersebut hanya merupakan gejala ikutan dari penyakit lain, misalnya anemia infeksiosa, dan ingus tenang.


Berdasarkan patofisiologisnya,
Kolik dibedakan ke dalam kolik spasmodik, kolik konstipasi, kolik timpani, kolik obstruksi, kolik lambung, dan kolik trombo-emboli (verminous colic)
Berdasarkan jalannya penyakit.
Di kenal kolik-kolik yang berlangsung secara sub-akut, akut dan rekuren (atau kronik). Kronik rekuren berlangsung secara berulang-ulang tergantung pada perjalanan penyakit primernya
Berdasarkan cara penanganan kolik
Dikenal kolik sederhana, atau kolik non-operatif, yang penanganannya cukup dengan pengobatan medicinal, dan kolik operatif, atau surgical kolik, yang untuk kesembuhannya diperlukan tindakan operasi (Subronto., 2003).

Berikut ini, merupakan klasifikasi gangguan pencernaan makanan berdasarkan perubahan patofisiologis alat pencernaan makanan:

Kolik Konstipasi (Impaksio Kolon)
Kolik konstipasi merupakan kolik yang ditandai dengan rasa sakit perut dengan derajat sedang, anoreksia, depresi serta adanya konstipasi.
Kasus terjadi karena kurang pakan, kurangnya jumlah air yang diminum, kelelahan setelah pengangkutan, keadaan gigi yang tidak baik, setelah sakit ataupun operasi, setelah pengobatan cacing, dan pada anak-anak kuda yang baru saja dilahirkan karena retensi tahi gagak (mukonum) (Subronto., 2003).

Kolik Spasmodik (Enteralgia Kataralis) . Kolik spasmodik adalah kolik akut, disertai rasa mulas yang biasanya berlangsung tidak lama, akan tetapi terjadi secara berulang kali. Rasa mulas ditimbulkan oleh kenaikan peristaltik usus dan spasmus hingga mengakibatkan tergencetnya syaraf. Kenaikan peristaltik akan menyebabkan terjadinya diare. Kolik dapat terjadi karena pemberian pakan yang kasar yang sulit dicernakan. Juga penggantian pakan yang dilakukan mendadak dan kuda-kuda yang baru saja diberi makan kenyang segera dipekerjakan lagi (Subronto.,2003).

Kolik Timpani (Flatulent Colic) . Kolik timpani merupakan kolik yang disertai timbunan gas yang berlebihan di dalam kolon dan sekum. Pembebasan gas terhalang oleh obstruksi atau oleh perubahan lain dari saluran pencernaan. Oleh cepatnya pembentukan gas proses kolik berlangsung secara akut, yang kadang-kadang terjadi secara berulang, dan mengakibatkan rasa sakit yang sangat. Kolik timpani dapat terjadi akibat konsumsi pakan yang mudah mengalami fermentasi, atau oleh factor lain yang menyebabkan turunnya peristaltic (Subronto., 2003).

Kolik Sumbatan (Kolik Obstruksi) . Kolik obstruksi merupakan kolik yang timbul akibat terhalangnya ingesta di dalam usus, oleh adanya batu usus (enterolith, fecalith, coprolith), atau bnagunan bola-bola serat kasar (phytobezoar). Timbunan serat kasar dapat diakibatkan karena perubahan anatomi usus, seperti invaginasi, volvulus, dan strangulasi. Kolik obstruksi ditandai dengan adanya rasa sakit yang berlangsung secara progresif, terentinya secara total pasasi tinja di dalam saluran pencernaan, penurunan kondisi dan gejala autointoksikasi.  Kolik obstruksi terjadi oleh adnaya sumbatan yang terjadi karena pemberian bahan makanan yang kasar dan kurangnya air yang diminum. Karena pakan hijauan yang tercampur dengan tanah(Subronto.,2003).

Kolik Lambung (Distensi Lambung) . Kolik lambung adalah kolik yang biasanya berlangsung secara akut, yang terjadi sebagai akibat meningkatnya volume lambung yang berlebihan. Kolik ditandai dengan ketidaktenangan, anoreksia total, rasa sakit yang mendadak atau sedikit demi sedikit, dan muntah. Dalam kedaan lebih lanjut gejala kelesuan dan shock terlihat lebih dominan (Subronto.,2003).

Kolik Trombo-Emboli (Arteritis mesenterica verminosa, Aneurisma verminosa)
Kolik trombo-emboli terjadi karena gangguan aliran darah ke dalam segmen usus, sebagai akibat terbentuknya simpul-simpul arteri oleh migrasi larva cacing Strongylus vulgaris. Terbendungnya saluran darah oleh thrombus dan embolus mengakibatkan terjadinya kolik spasmodik yang rekuren, sedangkan atoni segmen usus mengakibatkan terjadinya kolik konstipasi (Subronto., 2003). 
Gejala Klinis.
Sejumlah gejala yang dapat diamati dalam menderita kuda dari kolik. Rasa sakit perut yang disebabkan oleh kondisi ini sering memaksa kuda terpengaruh untuk menendang perut atau perut dan menggigit pada kedua sisi. Kuda yang terkena dapat menampilkan tidak tertarik untuk makan atau minum, dan mungkin berbaring lebih dari biasanya, atau bangun dan berbaring berulang kali. Kadang-kadang, itu bisa bangun dan mulai berjalan di kalangan dan kemudian berbaring lagi. Tanda-tanda lain dan gejala kolik pada kuda dapat termasuk, mengais-ngais tanah, sering mencoba untuk buang air kecil dan buang air besar tidak berhasil, memutar kepala terhadap diare, panggul, menggigit sisi, keriting bibir atas, mengerang, meregang, kegelisahan, stamping kaki, suhu tubuh sedikit lebih tinggi dari normal, denyut nadi meningkat dan berkeringat.
Penanganan.
Insiden kolik dapat dikurangi sampai batas tertentu dengan memberi makan kuda dengan kualitas tinggi serat (jerami atau rumput), menyediakan pakan yang bersih bebas dari jamur dan kotoran, dan mencegah konsumsi pasir dan kotoran. Jadwal makan yang teratur dan menghindari perubahan pakan juga dapat membantu mengurangi resiko kolik pada kuda. Juga penting adalah untuk menyediakan air bersih untuk kuda Anda, jerami pakan dan air sebelum biji-bijian, memungkinkan jumlah pemilih sebanyak mungkin, mempertahankan program latihan yang teratur dan konsisten, memilih cacingan reguler dan menghindari makan kuda segera setelah berolahraga dan berolahraga mereka segera setelah makan , untuk mencegah kolik kuda. Anda dapat berbicara dengan dokter hewan, jika Anda memiliki keraguan tentang apa kuda makan dan apa yang mereka seharusnya tidak makan.


Daftar Pustaka.

Boddie, F. Geo. 1962. Diagnostic Methods In Veterinary Medicine. London :
Oliver and Boyd.
Hanie, A. 2006. Large Animal Clinical Procedures for Veterinary Technicians. Dallas :
 Elsevier Mosby
Lane, R.D.2003. Veterinary Nursing third edition. UK : Butterworth Heinemann.
McCurin, D. M. 2002. Clinical TextBook for Veterinary Technicians fifth edition.
 Philadelphia : Saunders.
Subronto., 2003. Ilmu Penyakit Ternak I. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.


Minggu, 02 Juni 2013

Pemeriksaan Anjing.

Pemeriksaan Anjing “.
Thursday, May 30th 2013.
Learning Objectives.
1.      Bagaimana cara handling dan restrain pada anjing ?
2.      Bagaimana pemeriksaan anjing secara legeartis ?

Pembahasan.
1.      Cara handing dan restrain pada anjing.
Handling
a)      Handling anjing dalam posisi rebah lateral
Dengan anjing di posisi berdiri, raih seluruh kaki anjing dan peganglah kaki depan dan belakang dan dekatkan dengan tubuh handler. Perlahan-lahan angkat kaki anjing dari meja (atau lantai), dan biarkan tubuhnya meluncur perlahan-lahan .Gunakan lengan untuk menekan di sisi kepala, sehingga mengurangi pergerakan kepala serta sedikit tekan panggul anjing dengan siku.
b)      Handling anjing dalam posisi rebah sterna
Pada posisi rebah sternal biasanya berguna untuk membantu beberapa macam pemeriksaan seperti pemeriksaan mata dan telinga. Handling pada possisi ini dapat dilakukan dengan cara menemempatkan satu tangan di bawah leher dan tangan lainnya di punggung dengan tangan sepanjang sisi anjing. Kemudian tangan yang lain dicondongkan ke arah anjing untuk menarik kepala anjing ke arah bahu handler bila dibutuhkan kontrol pada keadaan tertentu. Hewan yang ditempatkan pada posisi ini dapat digunakan untuk pengambilan darah melalui vena jugularis.
c)       Handling anjing dengan posisi duduk
Handling anjing pada posisi ini dapat dilakukan dengan cara menempatkan satu tangan di bawah leher anjing sehingga lengan memegang kepala anjing aman terhadap restrainer tubuh. Menempatkan lengan lain di sekitar kaki belakang untuk mencegah anjing dari berdiri atau berbaring selama prosedur. Menarik anjing dekat dengan dada lebih memungkinkan kontrol jika binatang itu mencoba untuk bergerak.
d)     Handling anjing dengan posisi berdiri
Handling anjing pada posisi ini dapat dilakukan dengan cara menempatkan satu tangan di bawah leher anjing sehingga memegang lengan kepala anjing aman. Kepala harus sedemikian rupa sehingga tidak mungkin untuk anjing menggigit salah satu pemegang atau orang melakukan prosedur. Tempatkan lengan di bawah perut untuk mencegah anjing dari duduk atau berbaring selama. prosedur. Menarik anjing dekat tubuh untuk memungkinkan kontrol lebih jika binatang itu mencoba untuk bergerak (Lane, 2003).
Restrain
Pada dasarnya, prinsip dari restrain atau pengekangan terhadap pasien dalam hal ini anjing hanya dilakukan sesederhana mungkin, seminimal mungkin, dan mudah untuk dijalankan agar dapat menjamin keamanan dokter hewan yang memeriksa juga sebisa mungkin tidak menyebabkan hewan menjadi tertekan akibat proses restrain tersebut.Biasanya pada hewan yang telah cukup jinak dan sangat tergantung pada majikan, proses restrain dapat dilakukan dengan meminta bantuan pemilik untuk mengurangirasa gelisah pasien pada situasi yang asing. Secara umum yang perlu diperhatikan pada anjing adalah ketika mencoba untuk menggigit. Oleh karenanya, prosedur restrain hendaknya dipusatkan ke dareah moncong dan kepala. Pada beberapa anjing, metode restrain dapat dilakukan dengan cara menggenggam kulit leher pada dorsolateral telinga sehingga anjing tidak terlalu berontak ketika akan diperiksa.
2.      Pemeriksaan anjing secara legeartis.
A.    Registrasi
Registrasi adalah pencatatan data pemilik (klien) dan pasien. Isi dari registrasi adalah:
1)      Data pemilik:  nama, alamat tempat tinggal dan data lain yang menunjang pemeriksaan pasien.
2)      Data pasien: nama, breed, sex, age, spesific pattern.
Fungsi registrasi :
1)      Mengingatkan; terutama untuk pasien yang pernah ditangani/diperiksa.
2)      Komunikasi; terutama dengan kolega dalam hal rujukan.
3)      Dokumentasi; contohnya untuk memonitor pasien yang dirujuk.
4)      Efisiensi; tidak membutuhkan waktu yang lama untuk melihat riwayat pasien.
5)      Pengaturan; data lebih tertata dan mudah untuk mencarinya.

B.     Anamnesa
Anamnesa merupakan wawancara terhadap klien untuk mendapatkan informasi tentang pasien. Dengan anamnesa dokter hewan dapat mengetahui informasi tentang gambaran keadaan hewan mulai sakit sampai sekarang, Kejadian-kejadian pada waktu lampau yang ada hubunganya dengan penyakit yang sekarang diderita. Keadaan lingkungan, hewan yang serumah/ sekandang, pakan, status vaksinasi, dsb.Dalam anamnesa gunakan bahasa yang mudah difahami berdasarkan tingkat intelegensinya, sehingga pemilik dapat memberikan jawaban yang benar. Pertanyaan yang diberikan juga bersifat netral artinya tidak menduga terlebih dahulu jawabannya, juga hindari pertanyaan dengan jawaban ya dan tidak.
Menurut Boddie (1962), sejarah dari suatu kasus dapat dibagi menjadi pre history,  immediate history, dan post history.
1.      Prehistory
Merupakan cerita mengenai kejadian-kejadian sebelum terjadinya penyakit yang dikomplainkan klien. Misalnya saja penyakit yang dulu pernah diderita pasien, kebuntingan yang dulu pernah dialami pasien (jika betina), komplikasi yang terjadi pada kebuntingan yang terdahulu, mungkin  juga penyakit yang pernah dialami teman bermain si anjing, cara pemberian makan, dan mungkin juga keadaan lingkungan tempat tinggal anjing.
2.      Immediate history
Merupakan sejarah sejak hewannya pertama kali menunjukkan gejala penyakit yang dikomplainkan oleh klien hingga saat pasien dibawa dan dirawat oleh dokter hewan. Di sini klien dapat menceritakan kemungkinan terjadinya penyakit pada klien menurut apa yang dilihatnya.
3.      Post History
Merupakan sejarah dimana hewan tersebut menunjukann gejala atau perubahan-perubahan setelah dirujuk ke dokter hewan lain atau dengan pemberian obat terlebih dahulu sebelum dirujuk ke dokter hewan(Boddie, 1956).

C.    Handling dan Restrain


D.    Pemeriksaan Fisik
1)      Pemeriksaan Umum
a)      Temperatur
Temperatur dapat diukur melalui rongga mulut dan melalui lubang anus. Sebelumnya olesi ujung thermometer dengan bahan pelicin (missal vaselin). Masukkan ujung thermometer ke lubang anus, tunggu sampai angkanya terhenti (± 3 menit) dan hitung skalanya. Jika dilakukan pada rongga mulut (rongga pipi) maka hasil ditambah 0,5oC karena adanya evaporasi (penguapan). Suhu normal pada anjing adalah 37,8oC – 39,5oC.
b)       Pulsus
Pulsus pada hewan kecil dapat diraba pada arteri femoralis (sebelah medial femur) dan lakukan penghitungan selama 1 menit. Bila mengalami kesulitan dapat dilakukan selama 15 detik kemudian dikalikan empat. Frekuensi pulsus normal pada anjing adalah 76-148 kali/menit.
c)       Nafas
Frekuensi nafas dapat dihitung dengan memperhatikan gerak toracoabdominal dalam keadaan hewan istirahat dan tenang atau juga dapat dengan memperhatikan udara yang keluar masuk melalui lubang hidung . Untuk normalnya pada anjing adalah 24-42 kali/menit. 
d)      Selaput Lendir
Pemeriksaan selaput lendir meliputi conjunctiva, hidung, mulut, dan vulva. Pada conjunctiva, geser ke atas kelopak mata atas dengan ibu jari, gantikan ibu jari dengan telunjuk sedikit ditekan, maka akan tampak conjunctiva palpebrarum. Tekan kelopak mata bawah dengan ibu jari maka conjunctiva palpebrarum bawah akan tampak pula. Normal pada anjing berwarna pink.
Pada hidung, mulut dan vulva pada keadaan normalnya selalu basah dan berwarna pink, selain itu lakukan juga pemeriksaan CRT (Capilary Refiil Time/ waktu terisinya kembali kapiler) dengan cara membuka bibir hewan kemudian menekan gusi dan melepaskan kembali. Waktu normal maximal 2 detik
e)      Pemeriksaan Kulit dan Rambut
Pemeriksaan rambut dapat dilakukan dengan mengamati keteraturan susunan rambut, tingkat kerontokan, dan kilauan. Sedangkan pada rambut dapat diinspeksi lesi-lesi atau abnormalitas yang nampak. Tingkat elastisitas dapat diidentifikasi melalui pemeriksaan turgor dengan mengangkat kulit bagian tengkuk dan mengukur waktu kembali. Anjing normal mempunyai waktu turgor kurang dari 2 detik.Lama waktu turgor menunjukkan status dehidrasi anjing (Boddie, 1956).
2)      Pemeriksaan Khusus
a)      Sistem Pencernaan
Berikan pakan/minum untuk melihat nafsu makan dan minum. Perhatikan juga keadaan abdomen dan bandingkan sebelah kanan dan kiri. Amati mulut, dubur, kulit sekitar dubur dan kaki belakang. Terus perhatikan cara defekasi dan amati tinjanya.
Ø Mulut, Pharynx, dan Oesophagus; Buka mulut anjing dengan menekan bibir kebawah gigi atau ke dalam mulut, kemudian lakukan inspeksi. Bila perlu, tekan lidah dengan spatel agar dapat dilakukan inspeksi dengan leluasa. Pada anjing yang galak, rahang dapat ditali dengan kain lalu rahang atas ditarik ke atas dan rahang bawah ditarik kebawah. Perhatikan bau, mulut, selaput lendir mulut, pharynx, lidah, gusi, dan gigi-geligih. Perhatikan kemungkinan adanaya lesi, benda asing, perubahan warna, dan anomali lainnya. Perhatikan pula limfoglandula regional dan kelenjar ludah. Palpasi oesophagus dari luar sebelah kiri dan raba pharynx dari luar. Bila perlu, dilakukan pemeriksaan radiologi dengan sebelumnya memasukkan ke dalam oesopahgus bahan tak tembus sinar rontgen, misalnya bubur atau barium sulfat (Boddie, 1956).
Ø Abdomen; Lakukan inspeksi keadaan abdomen bagian kiri dan kanan, palpasi daerah abdomen secara menyeluruh dengan menekan ujung jari tangan kiri dan kanan dari dua sisi perut sampai kedua ujung jari bersentuhan atau hanya dibatasi oleh benda atau organ di dalam perut. Perhatikan isi abdomen yang teraba. Lakukan auskultasi dari sebelah kanan ke kiri untuk mengetahui peristaltik usus. Lakukan eksplorasi dengan jari kelingking (pakailah sarung tangan dari karet atau plastik yang diberi pelicin). Perhatikan kemungkinan adanya rasa nyeri pada anus atau rektum, adanya benda asing atau tinja yang keras. Ambil feses untuk pemeriksaan laboratorium, apabila terjadi konstipasi lakukan pemberian enema dengan memasukkan kedalam rectum ¼ -1 ml glyserin atau air sabun hangat 5-30 ml, kemudian ajak anjing ke halaman supaya leluasa bergerak dan buang air, perhatikan pula warna dan konsistensi tinjanya. Periksalah anus dan pencetlah anus dari dua sisi dengan jari tangan yang dilapisi dengan kapas perhatikan kemungkinan adanya cairan yang keluar (Boddie, 1956).
b)     Sistem Pernafasan
Perhatikan adanya aksi-aksi atau pengeluaran seperti batuk dan bersin, perhatikan frekuensi dan amati tipe nafasnya.
Ø Hidung; Perhatikan keadaan hidung dan leleran yang keluar, raba suhu lokal dengan menempelkan jari tangan pada dinding luar hidung. Letakkan kapas di depan hidung kemudian liat reaksi kapasnya. Lakukan perkusi pada daerah sinus frontalis dan perhatikan suaranya.
Ø Pharynx, Larinx, Trakea; Lakukan palpasi dari luar, perhatikan reaksi dan suhunya, perhatikan pula limfoglandula regional terutama limfoglandula submaxillaris, suprapharyngealis, dan parapharyngealis, perhatikan suhu, konsistensi, dan besarnya, bandingkan limfoglandula kanan dan kiri.
Ø Rongga dada; Tentukan daerah perkusi atau auskultasi paru-paru dan gambar di atas kertas dengan meletakkan garis batas depan sejajar vertikal, daerah kanan di sebelah kiri dan darah kiri di sebelah kanan ke atas, lakukan auskultasi dan perhatikan hasilnya, bandingkan dengan hasil auskultasi dengan trakea. Lakukan perkusi digital dengan membaringkan anjing pada alas yang kompak, perhatikan suara perkusi yang di hasilkan. Lakukan palpasi pada intercostae. Perhatikan adanya rasa nyeri pada pleura dan edeme subcutis. Pada anjing dan hewan kecil dapat dilakukan pemeriksaan radiologis (Boddie, 1956).
c)      Sistem Sirkulasi
Perhatikan adanya kelainan darah dan sirkulasi seperti anemia, sianosis, edema atau ascites, pulsus venosus, kelainan pada denyut nadi, dan sikap atau langkah hewan. Periksa frekuensi, irama dan kualitas pulsus atau nadi, kerjakan pemeriksaan secara inspeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi pada daerah jantung (sebelah kiri). Perhatikan adanya pulsasi di daerah vena jugularis dengan memeriksa pada 1/3 bawah leher, perhatikan kemungkinan adanya pulsus. Periksalah keadaan pembuluh darah perifer dengan pemeriksaan selaput lendir dan mukosa (Boddie, 1956).
d)     Sistem Limphatica
Lakukan inspeksi kemungkinan adanya kebengkakan limfoglandula. Limfoglandula yang dapat dipalpasi pada anjing yaitu; lgl. submaxillaris, lgl. parotidea, lgl. retropharyngealis, lgl. cervicalis anterior, lgl. cervicalis medius, lgl. cervicalis caudalis, lgl. prescapularis, lgl. axillaris (dapat teraba jika kaki diabduksikan), lgl. inguinalis, lgl. superficialis (pada betina disebut lgl. supramammaria), lgl. poplitea, lgl. mesenterialis. Lakukan palpasi di daerah lgl, perhatikan reaksi, panas, besar dan konsistensinya serta simetrinya kanan dan kiri (Boddie, 1956).

e)      Sistem Lokomotor
Perhatikan posisi, cara berdiri dan berjalan. Periksalah musculi dengan membandingkan ekstremitas kanan dan kiri. Serta melakukan palpasi. Perhatikan suhu, kontur, adanya rasa nyeri dan pengerasan. Pemeriksaan tulang seperti musculi diperhatikan bentuk, panjang dan keadaan. Coba gerak-gerakkan apakah ada rasa nyeri atau mungkin ada krepitasi (fraktur). Pemeriksaan radiologi bila perlu. Persendian diperiksa dengan inspeksi cara berjalan dan keadaan persendian, lakukan palpasi apakah ada penebalan, cairan (pada kantong synovial atau pada vagina tendinea). Gerak-gerakkan, perhatikan adanya rasa nyeri, atau kekakuan persendian (Boddie, 1956).
f)       Organ Uropoetica
Perhatikan sikap pada waktu kencing. Amati urine yang keluar, perhatikan warnanya, baunya dan adanya anomali (darah, jonjot, kekeruhan dan lain sebagainya).
Ø  Ginjal anjing dilakukan palpasi pada daerah lumbal, cari ginjal. Pada kucing dipalpasi dengan rongga perut, ginjal kucing menggantung.Perhatikan reaksi, besar, konsistensi dan simetrinya.
Ø  Untuk vesica urinaria, palpasi rongga perut pada waktu isi, kosongkan dengan kateter, palpasi pada keadaan kosong, raba kemungkinan adanya benda asing (batu, tumbuh ganda) atau adanya pembengkakan/penebalan dinding vesica urinaria.
Ø  Kateterisasi/pengambilan urin; ambil kateter sesuai dengan kelamin dan besar hewan. Kateter dimasukkan secara legeartis (kateter steril, dengan lubricant yang steril, tidak mengiritasi dan mengandung antiseptika). 
Pemeriksaan urin; pemeriksaan fisik, perhatikan air kemih yang telah di tamping, perhatikan warna, kekentalan, adanya benda-benda yang mencurigakan dan bau. Pemeriksaan laboratorium, minimal harus dilakukan pemeriksaan protein, pH, dan endapan, bila perlu ambil darahnya untuk pemeriksaaan urea (BUN,blood urea nitrogen) dan kreatinin (Boddie, 1956).

g)      Sistem Syaraf Pusat
Ø N. olfactorius (pembau). Dengan cara mendekatkan ikan, daging dan lain sebagainya yang merangsang syaraf pembau tanpa mendengar atau melihat.
Ø N. opticus (penglihatan). Gerakkan jari telunjuk di muka matanya, perhatikan apakah hewan mengikuti gerakan telunjuk, dan perhatikan reaksi pupil.
Ø N. oculomotorius, N. trochlearis, N. abducens. Perhatikan pergerakan palpebrae atas, dan gerakan bola mata serta pupil. Untuk pemeriksaan pupil tutup salah satu mata, buka cepat dan perhatikan reaksinya terhadap sinar.
Ø N. trigeminus untuk sensorik, mototrik, dan sekretorik. Lakukan rangsangan dan perhatikan reaksinya pada otot-otot daerah kepala dan mata, perhatikan saliva dan lakrimasi. Perhatikan adanya hyperaesthesi, paralisa dan adanya sekresi yang berlebihan atau berkurang, perhatikan cara mastikasi juga.
Ø N. facialis (wajah). Perhatikan kontur m. facialis, apakah lumpuh bilateral atau muka/bibir menggantung sebelah pada kelumpuhan unilateral.
Ø N. auditorius (pendengaran/keseimbangan). Perhatikan apakah hewan miring sebelah, sempoyongan, dan panggil namanya. Pada telinga pakai lampu (penlight) atau otoscope, periksa adanya radang, cairan, kotoran, dan pertumbuhan abnormal.
Ø N. glossopharingeal. Pada anjing buka mulut rangsang bagian belakang faring. Pada hewan besar perhatikan cara menelan.
Ø N. vagus (organ dalam) untuk sensorik dan motorik, pada jantung kerjanya inhibitor.
Ø N. spinal accessories. Perhatikan scapula, pada paralisa unilateral salah satu scapula menggantung (kelumpuhan syaraf yang menginervasi m. trapezius/m. sternocephalicus).
Ø N. hypoglossus. Perhatikan lidah apakah menjulur keluar (paralisa bilateral) atau menjulur ke salah satu mulut (paralisa unilateral) (Boddie,1956).

Syaraf Perifer
Perhatikan aktifitas otot, stimulasi dengan meraba, memijit, menusuk, mencubit dengan jari atau arteri klem atau pinset chirurgis.
Ø Reflex superficial; Conjunctiva (untuk serabut sensorik dari cabang ophthalmic dan cabang maxillaries syaraf cranial V). Cornea (untuk serabut sensorik dari cabang ophthalmic dan maxillaris cabang syaraf cranial V). Pupil (N. opticus: sensorik, N. oculomotorius: motorik). Perineal (N. spinalis) sentuh perineum, perhatikan reaksinya. Pedal (arcus reflex): sentuh, pijit, pinset (cubit) telapak kaki/interdigiti, perhatikan reaksi menarik pada kaki.
Ø Reflex profundal; patella, pada hewan kecil dilakukan dalam keadaan berbaring, pukul pada ligamentum patellae mediale. Bila reflex bagus m. quardriseps femoris akan berkontraksi mendadak/menendang. Tarsal, lakukan perkusi pada tendo achilles, bila refleksnya bagus maka m. gastrocnemius akan berkontraksi (tampak menendang).
Ø Reflex organic; menelan (koordinasi neuromuscular di daearah pharynx dan oesophagus, gangguan mekanisme ini terjadi pada tetanus, keracunan strichnin, tetani, paralyse N. XII dan N. X). respirasi (pusat reflex di medulla oblongata, otak, medulla spinalis daerah thorax). Defekasi (syaraf yang menginervasi spincter ani) (Boddie, 1956).


Daftar Pustaka.
Boddie, G. 1956. Diagnostic Methods in Veterinary Medicine. London: Oliver and Boyd.
 Gandasoebrata,R. 1970.Penuntun Laboratorium Klinik.Bandung : Penerbit Dian Rakyat .
Lane, C. B. 2003. Veterinary Nursing (Formerly Jones Animal Nursing 5th). USA: Pergamon.
Rock, A. 2007. Veterinary Pharmacology. London: Elsevier.
Sardjana, K., & Kusumawati, D. 2004. Anestesi Veteriner Jilid 1. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.